Traveling

Oh Kamera, Oh Phuket!

Pagi itu saya check out dari hostel di Krabi dan menunggu jemputan van menuju Phuket. Van yang saya tumpangi cukup besar dan hanya berisi 3 penumpang termasuk saya. Van berangkat menuju Phuket pukul 10 pagi.

Namun ada sedikit hal aneh ketika van yang saya tumpangi berhenti di sebuah pos dimana disana sudah banyak penumpang yang menunggu. Rata-rata mereka adalah orang barat sedangkan hanya ada 3 orang berwajah Asia termasuk saya. Saya disuruh turun dan menunggu di pos tersebut.

Saya menebak dalam hati bahwa saya akan pindah van bersama dengan penumpang lain yang akan menuju Phuket. Namun setelah 15 menit tidak ada pemberitahuan dari pihak travel akhirnya saya gunakan jurus sapa saya ke bule yang duduk di sebelah saya. Kata dia, van akan berangkat menuju Phuket pukul 11:30 dan masih menunggu drop penumpang dari van lain. Dari sini perasaan saya sudah agak tidak enak. Karena booking office tempat saya pesan van berangkat pukul 10:00, sedangkan booking office lain seharga 350THB berangkat pukul 11:30. Waktu adalah salah satu pertimbangan saya untuk membeli di booking office tersebut karena saya ingin lebih cepat sampai di Phuket. Saya sudah berpikir bahwa ini adalah pengalihan penumpang dari travel agen satu ke travel agen yang lainnya.

Pukul 11:30 sudah berlalu dan masih belum ada tanda-tanda van akan berangkat. Saya takut kesorean sampai di Phuket. Bisa gagal semua rencana saya. Sekitar pukul 12:00 salah seorang sopir van memberi komando untuk menaikkan barang-barang ke salah satu van yang akan berangkat ke Phuket. Saya pun ikut mengantri dan memilih duduk di depan di dekat sopir. Karena sebelumnya saya meminum obat flu yang menyebabkan kantuk, saya tidak dapat menahan beratnya mata saya ketika van sudah berjalan meninggalkan Krabi.

Pikir saya, saya bisa tidur nyenyak di van selama perjalanan dan berharap demam serta flu saya berangsur membaik. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pak sopir yang wajahnya mirip Mr. Krab di Spongebob ini ngebut banget sampai 140km/jam. Gila! Mana setiap kali dia mendahului mobil di depannya pakai teriak-teriak kegirangan begitu, kelihatan noraknya. Valentino Rossi aja nggak sebegitunya 😥 .

Disitu saya sangat merasa sedih. Wah masa iya sih di awal trip saya sudah mau mati? Kalau kecelakaan pasti aku mati deh. Wah setor nyawa beneran rasanya, mana nggak beli asuransi perjalanan lagi. Keringat dingin keluar dari badan tidak bisa tertahan meskioun AC di depan saya nyala kenceng. Dalam hati hanya bisa berdoa saja semoga selamat sampai tujuan. Sebenarnya penumpang-penumpang lain sudah berusaha mengingatkan supaya slow down. Eh bukannya nurutin tapi dia malah marah-marah kebakaran jenggot dan mengancam mau nurunin itu penumpang di pinggir jalan. Akhirnya setelah cek-cok sebentar semua penumpang pasrah. Mereka pasrahpun masih enak duduk di belakang. Lha saya????

Tidak sampai disitu saja kehebohan si sopir. Dari beberapa penumpang di van, mereka punya tujuan sendiri-sendiri. Ada yang turun di Kamala, Surin, Patong, Kata, maupun Karon beach. Pantai pertama adalah Pantai Kamala. Salah seorang penumpang diturunkan begitu saja di pinggir jalan, bukannya diantar sampai di depan hostel. Tentu saja dia protes, apalagi dia membayar tambahan sebesar 150THB di booking office untuk diantarkan sampai di depan hostel. Namun si sopir juga tetap tidak mau mengalah. Suasana tambah panas ketika si bule ini minta untuk menelepon si manager travel. Sepertinya manager itu juga menolak bernegosiasi. Ketika si bule minta uang 150THB nya kembali, eh si sopir nggak mau kasih. Malah tambah mencak-mecaknya. Sampe budek nih telinga karena dia ngomongnya pake teriak dan nggak halus sama sekali. Akhirnya si bule dan temannya yang menuju di Kamala Beach mengalah dan turun di pinggir jalan. Hal ini juga tidak jauh beda dengan penumpang lain yang turun di Surin Beach.

Giliran saya nih deg-degan karena mau turun di Patong Beach. Salah seorang penumpang yang memang orang Thailand bicara dengan bahasa Thai. Eh, bener diturunin sampai di hotel, di drop di depan lobby hotel malah. Sampai disini saya merasa sedih. Kenapa dia nggak baikin semua penumpang padahal dia dapet uang juga dari turis juga. Akhirnya saya keluarkanlah jurus saya. Saya coba ngomong baik-baik untuk diantar sampai ke depan hostel saya karena saya tidak tahu lokasinya di Patong Beach yang besar sekali ini. Lalu dia mengiyakan dengan catatan saya harus bayar 50THB ke dia. Saya okein saja dengan menyerahkan alamat hostel, berhubung saya sudah pengen cepat sampai dan hari sudah sore. Dengan kecepatan 140km/jam saja perjalanan sampai di Phuket membutuhkan waktu 3,5 jam. Mungkin apabila naik bis bisa lebih lama dari itu. Bisa saja 5 jam sampai di hostel meskipun beberapa referensi mengatakan hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam saja.

Benar saja, dia bantu saya cari hostel saya sampai ketemu, lalu saya serahkan 50THB yang berharga ke tangan si sopir. Usut punya usut ternyata semua booking office di sepanjang jalan Pantai Ao Nang ini bukan punya travel agen sendiri seperti di Bali. Jadi misalnya kalau salah 1 travel sudah penuh dengan tujuan yang sama dia langsung berangkat, namun bila tidak dia drop penumpangnya di travel yang saya naiki. Saya lupa persisnya nama travel agen yang saya tumpangi, yang jelas lembar nota dengan tulisan travel agen yang diberikan booking office tidak sama dengan travel agen dari van yang saya tumpangi. Saya tidak sempat memotret nota dari kedua travel agen yang berbeda tersebut karena nota diminta oleh mereka sebelum naik ke van. Dari Pak sopir jugalah saya diberitahu bahwa petugas di booking office itu selalu bilang bisa diantar sampai ke hostel dan minta tambahan biaya. Sedangkan pada kenyataannya uang tambahan itu masuk kantong sendiri.

Saran saya apabila ingin pergi ke Phuket dengan van, susurilah jalanan sepanjang pantai dan ambil harga termurah. Harga termurah per Juli 2015 adalah 350THB. Jangan sekali-kali mau membayar lebih bila mereka mengiming-imingi di drop di depan hostel. Lebih baik nego langsung dengan sopir yang menghantar nantinya.

Saya menginap di Baan Lukkan Patong Resort. Lokasinya ada di Nanai Road. Hostel ini mempunyai bangunan baru dan bangunan lama. Saya menginap di bangunan lama, dan memilih private room karena memang tidak ada dorm room. Dengan membayar sebesar 300THB saya tinggal di kamar berikut.

20150702_154652 20150702_154729

DSC_0688

Saya sendiri tidak rekomen untuk tinggal disini. Pertama karena lokasinya yang agak jauh dari pusat keramaian apabila berjalan kaki. Mau tidak mau harus sewa motor. Namun tidak masalah bagi saya karena memang dari awal saya ingin menyewa motor. Kedua, karena saya menginap di bangunan tua, rasanya sedikit menyeramkan meskipun semua lengkap termasuk kulkas dan ranjang yang empuk. Lebih baik bila ingin menginap di tempat ini, pilihlah bangunan yang baru. Poin plusnya wifinya jago, cukup memuaskan dan staffnya cukup ramah.

Setelah berberes sedikit, saya mulai mencari persewaan motor. Kebetulan sekali di depan hostel ada persewaan motor hanya seharga 200THB dengan keadaan tangki kosong. Akhirnya isi bensin dulu sebesar 40THB dan memulai perjalanan dengan bantuan insting.

Tempat yang saya kunjungi pertama kali adalah Karon View Point. Lokasinya cukup jauh dari hostel dan jalan menanjak karena terletak di atas bukit. Dari view point ini kita bisa lihat pemandangan semua pantai dari atas. Akan jadi menarik apabila datang ke tempat ini saat sunset. Saya pikir saya ingin menunggu di view point sampai sunset tiba, namun kemudian saya berubah pikiran. Saya putuskan menikmati pantai-pantai yang lain. Saya pergi ke Pantai Kata Noi, mengambil foto sebentar lalu pergi. Kemudian saya pergi ke Pantai Kata, duduk sejenak dan menikmati pemandangan. Bagi saya  pantainya tidak lebih menarik dari pantai di Bali. Kemudian, saya putuskan untuk mengunjungi Big Budha yang terlihat dari Karon View Point. Rasa-rasanya sih tempat Big Budha tidak jauh dari Karon View Point.

Pemandangan dari Karon View Point
Pemandangan dari Karon View Point
DSC_0585
Kata Noi Beach
DSC_0616
Jangan tanya siapa yang motoin hahaha….

Saya mengemudikan motor mengikuti petunjuk arah. Namun tiba-tiba petunjuk arahnya hilang alias tidak ada lagi. Kemudian saya melihat petunjuk lain yaitu Wat Chalong. Oke nggak jadi ke Big Budha, pindah saja ke Wat Chalong. Pada saat perjalanan menuju Wat Chalong eh ternyata petunjuk jalan ke Big Budha ada lagi hahaha 😀 . Akhirnya saya menuju Big Budha saja yang kelihatannya dekat tapi tidak saudara-saudara…:P 😛 😛 .

Jalanan menuju Big Budha ini benar-benar menanjak. Saya jadi ingat perkataan seseorang yang saya temui di Karon View Point. Saya bertanya apakah dia tahu jalan menuju kesana. Dia bilang tidak bisa ditempuh dengan menggunakan motor karena tanjakan yang curam dan jalannya yang berkelok-kelok. Namun karena saya sudah pernah baca blog sebelumnya bahwa kesana bisa ditempuh dengan motor saya nekat saja. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 5 lebih sedangkan saya masih juga belum sampai tujuan. Sedikit deg-degan juga sih karena jalanan kanan kiri itu hutan dan jurang, lampu penerangan jarang, dan sepi sekali. Saya sempat berpikir untuk berbalik dan ganti destinasi, namun sayang buang-buang waktu. Akhirnya sampai juga di Big Budha. Benar-benar lega rasanya karena jaraknya cukup jauh dari Karon View Point, saya langsung teriak teriak heboh saking senengnya. Dari semua pengunjung hanya saya saja yang bawa motor, kebanyakan mengendarai mobil. Disini pula akhirnya saya menyaksikan sunset dari atas bukit.

DSC_0624

DSC_0632

DSC_0643
Uang kembalian yang disediakan untuk mereka yang mau berdonasi

DSC_0645

DSC_0664

DSC_0679

DSC_0681

DSC_0648
Setelah berdoa ibu ini berjalan sambil membunyikan lonceng-lonceng yang digantung di bawah patung Big Budha. Suara gemerincing lonceng yang tertiup angin terdengar sangat syahdu banget

Setelah cukup mengambil foto dan sudah mulai gelap saya putuskan untuk pulang. Mengingat jalanan yang sepi dan tanjakan tajam. Ada satu tanjakan tajam yang saya ingat dengan kemiringan 45 derajat dan berbelok hampir 180 derajat. Sumpah rasanya saya pasrah kalau akan jatuh pas di tanjakan tersebut, namun untungnya saya masih diberkati yang Maha Kuasa 😀 :D. Serasa driver hebatlah pokoknya :D!

Rencana selanjutnya saya ingin mengunjungi Banzaan Market yang ramai dibicarakan orang karena street foodnya, saya sempat kesasar meskipun akhirnya menemukan lokasinya. Begitu sampai di Banzaan Market, mata saya langsung dimanjakan dengan berbagai macam makanan yang tersedia disana. Banyak penjual makanan yang membuka stall diluar Banzaan Market. Tanpa basa-basi saya keluarkan kamera saya untuk memotret semua street food dan keramaian orang disana.

Begitu mengeluarkan kamera, JENG JENG !!!! air juga keluar dari tas saya. Ternyata air minum saya tumpah dalam tas. Hal itu tidak saya ketahui karena saya memakai dry bag. Jelas saja air tumpah di dalam tas tidak akan tembus keluar. Spontan saya langsung mengeluarkan tab dan dompet. Kamera langsung mati, tidak bisa hidup, sedangkan layar Tab saya langsung bergaris-garis. Dari situ saya sudah tidak konsen, ingin cepat pulang. Tidak ada satupun gambar yang bisa saya ambil di Banzaan Market, padahal banyak sekali gambar yang ingin saya abadikan. Karena pikiran sudah semrawut kayak benang ruwet saya putuskan untuk segera membeli makan dan pulang.

Sesampai di hostel saya sibuk urus kamera. Saya coba berkali-kali untuk menghidupkan tetap tidak bisa. Akhirnya saya lepas semua baterai, memori, dan lensanya. Untung Tab masih bisa hidup. Saya segera hubungi saudara saya untuk meminta solusi. Malam itu, makan malam saya nasi goreng ala Thailand berasa duri meskipun rasa sebenarnya enak. Pikiran saya kacau balau. Trip masih 18 hari lagi namun kamera saya yang benar-benar krusial malah mati.

Akhirnya saudara saya menyarankan untuk memanasi kamera dan lensa dengan menggunakan lampu dop. Karena tidak ada lampu dop saya gunakan lampu tidur yang kebetulan memang ada di kamar. Sejam saya cek masih tidak bisa, dua jam masih tidak bisa juga. Akhirnya saya diamkan beberapa saat di atas lampu. Malam itu saya batal jalan-jalan ke Bangla Road lihat Ladyboy yang katanya cantik-cantik itu.

Malam itu saya tidur tak nyenyak, sebentar-sebentar terbangun untuk membalik posisi kamera dan lensa yang dipanasi pakai lampu tidur. Padahal sebenarnya kasur tempat tidurnya empuk, bantalnya harum, selimutnya hangat dan AC nya sejuk hahaha lebay 😀 😀 . Sungguh, kejadian seperti ini tidak saya duga dan harapkan. Karena saya orangnya gampang panik, saya coba tenangkan diri terlebih dahulu dan memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Besok paginya, saya dilanda rasa malas untuk beranjak dari tempat tidur dan menjelajah Phuket . Masih tetap kepikiran si kamera dan tab. Iseng-iseng saya pasang baterai dan lensa serta kartu memori dan mencoba memotret. Eh ternyata bisa!!!! Mood saya kembali bangkit untuk kembali menjelajahi sisa rencana yang bisa diselamatkan hari itu.

Saya putuskan check out tepat jam 12:00 siang dan menitipkan tas saya di lobby. Berhubung waktu sewa motor masih 4 jam lagi saya gunakan untuk pergi mencari mall Jungceylon. Saya harus bisa berfoto dengan perahu yang ada di mall tersebut. Sebelum pergi saya tak lupa cek di internet tentang Jungceylon ini yang terbagi menjadi 4 bagian (zone) yaitu Silang Boulevard, The Port, Sino Phuket, dan Phuket Square. Keterangan lebih lengkapnya silahkan klik disini.

DSC_0694

DSC_0697

DSC_0702

DSC_0704

Siang itu matahari tidak terlalu terik. Sempat hujan sedikit dan kemudian deras. Untungnya lagi ada di dalem mall :D. Mall ini cukup ramai orang lalu lalang. Berasa deh kesepian 😥 . Saya coba kelilingi mall dan mengambil beberapa gambar sekalian makan siang disini. Ada foodcourt di basement yang selalu dibicarakan orang di blog dan buat penasaran hahaha 😀 :D. Saya coba putar-putar mengelilingi mall dan mencari dimana letak foodcourtnya. Akhirnya ketemu juga 😀 .

DSC_0707

Rata-rata semua outlet memajang tiruan makanan yang mereka jual. Bikin tambah lapar gila 😀 ;D 😛 .

DSC_0711

DSC_0712

DSC_0714

DSC_0716

DSC_0717
Sistem pembelian makanan dan minuman pakai kartu pink ini. Jadi deposit dulu sekian THB nanti kalau masih ada sisa bisa diminta kembali 😀
DSC_0718
70THB ajah 😀

Karena waktu sudah mendekati pukul 3, tanda waktu rental motor sudah mau habis saya segera kembali ke hostel. Setelah selesai mengurus motor dan mendapatkan paspor saya kembali saya ambil tas di lobby hostel. Disana ada seorang petugas hostel yang sepertinya masih saudara dengan pemilik hostel. Dia menyapa saya dan bertanya asal dan tujuan saya selanjutnya dengan broken Englishnya. Dia terkaget-kaget bahwa saya melakukan solo trip. Dari dia juga saya mendapatkan bantuan bagaimana saya menuju ke tempat selanjutnya. Dia hantar saya sampai depan hostel, mencarikan ojek, dan bahkan melambai kepada saya saat saya melaju dengan ojek ke halte bus Patong.

Abang ojek yang mengantarkan saya ramah sekali. Dia coba bercakap-cakap dengan saya dan Bahasa Inggrisnya cukup bagus. Saya bayar 50THB, padahal deket banget. Tapi itu harga yang pantas buat kebaikannya. Kebaikan apa? Dia tidak hanya antar saya sampai ke halte bis, tapi nungguin saya sampai bis berangkat. Melambaikan tangan dan berteriak “Have a save trip! Have fun in Bangkok! Success for your trip!”. Oya, saya menyimpan nomor HP nya apabila ada yang mau atau butuh ojeknya suatu saat. Asli orangnya baik! 😀

Di dalam bus tanpa kaca itu, saya merasa sangat bahagia. Kenapa? Kamera saya menyala kembali, dan saya menerima begitu banyak bantuan dari orang-orang di sekitar saya. Sejenak rasa kesepian itu hilang :D. Tujuan saya selanjutnya adalah Phuket Old Town. Saya membayar tarif bus sebesar 30THB dan turun dekat sekali dengan area Phuket Old Town.

DSC_0720

Pas turun di pos tersebut ada beberapa orang juga yang ikut turun. Salah satunya adalah sepasang backpacker yang masih muda. Langsung deh jurus sapa saya keluar. Ternyata mereka juga akan mengunjungi Phuket Old Town. Wah kebetulan banget, jadi ada temennya. Pas udah cas cis cus  pakai Bahasa Inggris dan nanya mereka darimana ehhh ternyata dari Indonesia juga, alias Jakarta. Waahh plong banget rasanya udah kangen ngomong Bahasa Indonesia juga 😀 😀 ;D .

Di Old Phuket Town ini tidak hanya bangunan tua saja yang menarik perhatian, tetapi ada beberapa temple yang bisa dikunjungi. Segera setelah turun dari bis tadi ada tourist spot yang menyediakan map Phuket Old Town. Di beberapa titik juga dipasang peta besar untuk menunjukkan keberadaan kita dan beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Salah satunya ada di sebelah Soi Romanee.

DSC_0743
Unik banget nemu ini tergeletak tak berdaya di pinggir jalan

DSC_0745

DSC_0754

DSC_0755

DSC_0761

DSC_0781

Bangunan di Soi Romanee
Bangunan di Soi Romanee

DSC_0807

DSC_0826
Lantai salah satu rumah di Phuket Old Town

DSC_0836

DSC_0838

DSC_0851

DSC_0852

DSC_0853

Nemu hostel yang terkenal karena film yang dibintangi Leonardo de Caprio hahaha
Nemu hostel yang terkenal karena film yang dibintangi Leonardo de Caprio hahaha

DSC_0878

DSC_0886

DSC_0888

DSC_0892

Disini saya merasa sedoh sebagai solo traveler :'( :P
Sepasang backpacker dari Jakarta yang saya temui. Disini saya merasa sedih sebagai solo traveler 😥 😛
Jiwa guru saya memang nggak bisa dibohongi. Begitu lihat murid langsung ngajakin foto hahaha :D :D
Jiwa guru saya memang nggak bisa dibohongi. Begitu lihat murid langsung ngajakin foto hahaha 😀 😀

Selain berwisata melihat bangunan tua di Phuket Old Town, kami mengunjungi Shrine of the Serene Light, Wat Puttamongkonnimit, dan traditional market yang kebetulan berdekatan dengan posisi kami saat itu.

DSC_0857

DSC_0861

DSC_0864

DSC_0870

DSC_0871

DSC_0814

DSC_0819

DSC_0823

DSC_0774
Penjual di Traditional Market

Oya, di sepanjang Thalang Road terdapat banyak banget cafe. Tinggal pilih deh 😀

DSC_0764

DSC_0784

Sore itu setelah berkeliling-keliling bersama ternyata kami punya tujuan yang sama selanjutnya yaitu Phuket International Airport. Mereka akan terbang menuju Bangkok malam itu juga, sedangkan penerbangan saya masih besok paginya. Akhirnya setelah cukup berkeliling-keliling kami putuskan untuk menuju ke Old Terminal Phuket berjalan kaki, karena kami lihat di peta tidak terlalu jauh. Sudah mengikuti petunjuk ke terminal tapi tidak juga kelihatan. Setelah tanya ke salah seorang disana, ternyata terminalnya tinggal sedikit lagi dan memang tidak terlihat seperti terminal kebanyakan karena terhalang tembok. Oya, di terminal ini ada wifinya loh. Sambil menunggu bis, saya sempatkan menyelam sejenak di dunia maya.

Malam ini saya berencana untuk tidur di bandara mengingat penerbangan saya besok pukul 8:55 sedangkan bis paling pagi berangkat pukul 8:00. Namun update terakhir sudah tersedia bis yang berangkat pukul 06:00 pagi.  Bis terakhir menuju ke bandara pukul 18:30 seharga 100THB. Selengkapnya bisa dilihat disini.

Sesampainya di bandara kami segera menuju ke departure floor. Akhirnya saya berpisah dengan mereka karena mereka akan berangkat ke Bangkok. Sebelumnya, kami mengambil foto untuk kenang-kenangan. Tugas saya selanjutnya adalah mencari spot untuk tidur. Bandara Phuket sebenarnya kecil dan cukup ramai. Sebenarnya saya sudah ancer-ancer untuk tidur di Mushola, hanya saja saya merasa tidak enak karena saya sendiri non Muslim.

Di mushola ini tempatnya nyaman, tenang, dan tidak ada orang lalu lalang. ACnya juga sangat dingin, padahal semua senjata sudah dikeluarkan. Saya tidak bisa tidur nyenyak karena petugas cleaning service bekerja tengah malam sampai subuh menyebabkan suara bising. Akhirnya ketika banyak orang datang untuk sholat subuh saya putuskan untuk keluar dan mencari bangku di depan check in counter untuk tidur. Di tengah lalu lalang orang yang sibuk check in saya terlelap tidur karena menahan kantuk sejak semalam.

Pagi itu saya tidak mandi, yang berarti mandi terakir adalah kemarin pagi hahaha. Pas ada di toilet untuk cuci muka, saya kaget melihat muka saya di cermin. “Ini aku?” tanya saya dalam hati. Muka setengah mengantuk dan gembel banget, huhuhu 😥 😥 .

Saya check in lewat mesin karena sedikit was-was carrier saya beratnya lebih dari 7kg. Eh pas di depan pintu masuk gate sudah dicegat sama petugasnya karena carrier saya kelihatan besar. Saya bilang carrier saya tidak berat dan hanya ini bawaan saya. Akhirnya diperbolehkan masuk juga dan harus buang air minum dalam botol karena lebih dari 100ml. Tidak lama setelah menunggu beberapa saat sudah waktunya untuk penerbangan saya ke Bangkok. Penumpang yang lain modis-modis dan cantik, aduh jadi malu rasanya pengen rasanya mandi dan sedikit berdandan. Hahaha 😀 .

So here we go, Bangkok I’m going to see you!

Iklan

12 tanggapan untuk “Oh Kamera, Oh Phuket!

  1. wah keren banget kak, aku juga ada rencana awal februari 2018 karena ada tiker promo hehe modal nekat aja kak rencana dari singapore sampai vietnam, tp kalo uang juga mencukupi kalau engga cukup ya mungkin aku cuma sampe thailand kak hehe
    aku juga solo backpacker dan ini adalah pengalaman pertama juga kak
    oh iya kak, saya juga terkendala dengan bahasa. bahasa inggris saya belepotan banget malah dibilang jelek, gimana ya kak mengatasinya?

    ada yang mau ikut gabung? bisa ke email aja hehe handayaniisusy@gmail.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s