Traveling

Mengejar Sunset di Krabi

Pukul 5 pagi itu saya sudah terbangun dan hendak bersiap-siap untuk penerbangan ke Krabi. Bukan bangun dari tempat tidur yang hangat, melainkan bangun dari sofa Burger King di KLIA2 yang menjadi singgasana tidur saya sejak semalam sampai di KLIA2.

Setelah bebersih diri saya menuju imigrasi di bandara yang antrinya lumayan panjang. Jarak dari imigrasi ke gate penerbangan juga lumayan jauh. Saat itulah saya langsung mengiyakan dalam hati bahwa connecting flight di KLIA2 setidaknya harus spare waktu selama 2 jam, seperti yang sudah saya baca di blog. Waktu yang saya butuhkan mulai dari antri di imigrasi sampai di gate menunggu penerbangan saja sudah 1 jam sendiri.

Krabi menjadi tujuan saya pertama kali dalam memulai trip di Asean selama 3 minggu. Kenapa pergi ke Krabi? Jujur saya penasaran dengan cerita orang bahwa Krabi lebih tenang dan sepi dibandingkan dengan Phuket. Lagipula, dari Krabi juga akan lebih dekat bila mengunjungi Phi-Phi Island. Akhirnya saya memutuskan mengunjungi Negeri Gajah Putih untuk pertama kalinya melalui Krabi.

Pemandangan Krabi dari pesawat
Pemandangan Krabi dari pesawat

Awalnya saya ragu untuk berangkat trip ini karena mendengar virus MERS-CoV yang sudah masuk ke Thailand. Bahkan seorang teman saya menyarankan untuk membatalkan trip dengan alasan kesehatan. Namun saya tetap ingin berangkat mengingat ada misi yang harus saya jalankan dalam trip ini.

Begitu turun dari pesawat, saya dan penumpang lain disambut oleh petugas kesehatan. Disana dia memegang benda seperti pistol yang mengeluarkan sinar lalu seperti ditembakkan ke dahi. Setelah itu kami juga diberikan hand sanitizer untuk membersihkan tangan. Bandara Krabi ini cukup kecil sehingga tidak memakan proses yang lama di imigrasi. Begitu selesai dari imigrasi langsung ada eskalator turun ke bawah dan disana sudah ada money changer, kios-kios yang berjualan sim card maupun souvenir dan makanan. Saya berusaha mencari koneksi internet untuk menghubungi host saya di Krabi, namun tidak berhasil. Setelah melewati scan bagasi di pintu keluar saya berjalan ke arah exit dan bingung. Kenapa? Saya bingung harus naik bis ke Ao nang atau menunggu host saya di Bandara.

Sempat terpikir untuk membeli sim card, namun tidak punya uang Baht sepeserpun. Mau tukar dolar ke Baht namun rate sangat jelek sekali dan pecahan dolar yang saya bawa adalah 100 USD. Setelah beberapa saat berpikir saya kembali ke kerumunan orang-orang yang menunggu untuk memastikan apakah diantara mereka ada host saya. Dengan ragu-ragu saya mendekati salah seorang bertampang bule dan memberanikan diri bertanya.

“Hi, sorry. Are you Dante?”

“Yes I am, yes…Oh so you are Odilia? I’ve watching all the time to find you the girl with green backpack.

Dan berlanjutlah obrolan kita sampai akhirnya kami berjalan menuju tempat parkir. Yes, penghematan pertama dimulai, yaitu tiket bis dari bandara ke Ao Nang sebesar 150 Baht, hahaha. Lalu bagaimana ceritanya saya bisa kenal dengan Dante? Saya posting public trip saya di couchsurfing mengenai kunjungan saya ke Krabi. Lalu dengan kebaikan hatinya, dia menawarkan saya untuk menjadi host saya selama di Krabi, namun akhirnya batal karena dia harus mengurus pindah ke rumah yang baru. Sebagai gantinya dia menawarkan saya untuk menemani saya jalan-jalan di Krabi.

Pertama kali keluar dari bandara Krabi, saya tertakjub dengan jalannya yang besar dan sepi serta pemandangan bukit kapurnya. Sepanjang perjalanan saya lihat tulisan yang mengular-ular pertanda bahwa saya benar-benar sudah ada di Thailand. Wow sekali rasanya.

DSC_0123

Dante mengantar saya ke tempat tujuan pertama yang ada di Krabi Town, yaitu Tiger Cave. Kebetulan saya mengambil banyak foto disana. Jadi sebenarnya ini adalah tempat berdoa untuk umat Budha. Selain vihara berupa gua untuk berdoa kepada Budha, terdapat kuil untuk berdoa kepada Dewi Kwan Im. Selain itu, ada hutan yang terletak di belakang kuil Dewi Kwan Im yang bisa dijelajahi. Di dalam hutan ini terdapat beberapa gua dan rumah tempat tinggal para Biksu. Pohon-pohon besar sudah menjadi pemandangan biasa kan kalau kita pergi ke hutan, namun melihat kura-kura di dalam hutan adalah hal yang menarik untuk saya. How come a turtle live in the jungle???

DSC_0030
Kuil Dewi Kwan Im

DSC_0017 DSC_0016 DSC_0021 DSC_0022 DSC_0025 DSC_0026 DSC_0031

DSC_0034DSC_0038 DSC_0039 DSC_0040

DSC_0042
Kantong plastik yang dicuci untuk dipakai lagi

DSC_0036DSC_0037DSC_0046 DSC_0056 DSC_0057 DSC_0064 DSC_0066

DSC_0091
Di dalam gua tempat berdoa bagian depan kita bisa melempar uang dan mungkin sambil mengucapkan permohonan 😀
DSC_0099
Jangan lupa berpakaian yang rapi 😀

DSC_0094 DSC_0095 DSC_0088

Hal yang saya lewatkan di tempat ini adalah naik ke puncak bukit. Dari beberapa blog yang saya baca dan kata Dante kita bisa melihat pemandangan yang bagus sampai di atas. Namun saya memutuskan untuk tidak naik. Naik 60 tangga pertama saja sudah kewalahan karena kurang tidur semalam. Akhirnya cuma foto sama patung harimau yang ada di dekat tangga 😀 :D….

DSC_0028 DSC_0077

Selesai menjelajah Tiger Cave Temple kami pergi ke tempat lain. Sampai di parkir mobil saya bertanya kepada Dante berapa Baht harus saya bayar untuk biaya parkir. Lalu dia tertawa terbahak-bahak karena menyamakan Thailand dengan Indonesia. Parkirnya gratis alias cuma-cuma, tidak seperti di Indonesia parkir saja harus merogoh kantong, kata Dante.

Sebenarnya Dante menawarkan saya untuk mengunjungi air terjun yang ada di Krabi Town, namun karena saya sering kali melihat air terjun di Indonesia saya bilang bahwa saya kurang tertarik. Kamipun mengunjungi patung kepiting yang mnejadi ikon kota krabi. Namun sesampai disana masih antri anak-anak sekolah berseragam khas Thailand. Sehingga kami mampir makan dulu di kedai yang terletak di seberang patung Krabi. Yang ini hemat part 2 karena dibayarin hehe 😀 :D.

DSC_0106
Asli enak, awas ya ini PORK hehe….Harganya 50THB
DSC_0107
Ice Tea Milk Tea and Ice Tea Coffee Milk Tea cuma 20 THB saja

Selesai makan, pas banget gerombolan anak sekolah sudah pada bubar. Eh jarak 5 meter dari patung sudah ada bis datang bawa turis, ramai lagilah tuh patung. Akhirnya saya sempatkan dulu untuk foto-foto dan berjalan-jalan di sekitar area patung kepiting tersebut. Ada beberapa orang yang menawarkan wisata perahu namun saya tolak dengan halus. Parahnya mereka kira saya yang orang lokal dan Dante adalah turis yang datang ke Krabi :’(. Akhirnya setelah cukup jalan-jalan dan menikmati sekitar bisa juga foto dengan patung kepiting dan burung ini :D.

DSC_0114
Bersih banget, bikin seneng jalan-jalan disini
DSC_0118
Me and Mr Krab 😀

DSC_0109 DSC_0116

Destinasi selanjutnya saya mengunjungi Sai Thai Ancient Sea Shell Site. Jadi disini ada beberapa hal yang bisa kita lihat : tempat ibadah, patung Budha yang tidur, sebuah gua dengan kerang-kerang yang sudah tua, serta lonceng besar yang digantung di pohon. Jujur saja tidak ada yang bisa dilihat di gua dengan kerang-kerangnya yang bahkan terkesan berantakan. Namun setidaknya saya bisa mendapatkan foto patung Budha yang tidur dan mendengarkan para Biksu yang sedang berdoa.

DSC_0131
Dante

DSC_0127 DSC_0128 DSC_0139

Selanjutnya Dante mengajak saya untuk mengunjungi Museum Gastropoda dan Kolam Ikan. Namun begitu sampai disana saya tidak tertarik, hanya berkeliling sebentar dan kemudian kembali lagi. Dia kemudian mengantar saya sampai ujung Pantai Ao Nang untuk mendapatkan tiket tour ke Phi-Phi Island. Sementara dia sibuk mencari parkir saya mengambil gambar sekeliling pantai Ao Nang. Ternyata harga yang dipasang lumayan tinggi, tak cukup untuk di kantong saya. Akhirnya saya diantar Dante ke pengingapan yang sudah saya pesan disana. Saat perpisahan dia sempat-sempatnya menawarkan diri untuk mengantar saya kemanapun saya mau, makan malam bersama bahkan mengantar ke terminal menuju Phuket!

Tempat saya menginap adalah Aonang Backpacker Hostel. Awalnya saya pesan di kamar berisi 12 orang eh malah diupgrade ke kamar isi 6 orang. Lumayan kan :D. Saya suka kamarnya, bersih, kamar mandi dalam, dan ada balkonnya. Ranjangnya juga enak, spreinya bersih padahal saya hanya bayar 56rb rupiah saja per malam. Kekurangannya hanya satu, posisi ranjang diatasnya terlalu pendek jadi kepala saya sering kejeduk :D. Tapi overall semuanya bagus.

Oya, lokasi hostel ini agak jauh dari pantai ya. Ada 2 hostel sebenarnya dimana yang satunya lagi dekat dengan pantai namun dengan harga selisih 50THB. Kalau kamu mau pesan di hostel ini sebaiknya lakukan lewat Agoda.com atau Booking.com siapa tahu ada diskon. Saya sendiri memesan lewat Agoda dan memutuskan memperpanjang sehari kemudian bila cocok dengan kamarnya. Sementara saat saya memperpanjang stay disana, tarif yang diberlakukan adalah 150THB dengan kurs saat itu adalah 418, kalau dirupiahkan sekitar 63rb. Karena masih masuk anggaran jadi nggak masalah saya tetap stay disana. Oya begitu masuk jangan kaget kalau petugas minta tambahan biaya sebesar 300THB untuk deposit loker. Uangnya akan dikembalikan bersamaan dengan saya mengembalikan kunci lokernya. Info lebih lanjut bisa klik langsung ke websitenya disini.

Saat masuk kamar sudah ada penghuni 2 orang dari China dan Filipina. Saya berkenalan dengan traveler dari China (Chen) dengan broken englishnya. Terkadang kami hening untuk beberapa menit karena dia masih berpikir untuk berbicara. Daripada susah-susah saya sodorkan Google Translate, kebetulan wifinya kenceng banget! Top pokoknya.

DSC_0571
Superfine bathroom!

DSC_0471 DSC_0470 DSC_0572

Jadilah sore itu saya jalan bersama Chen. Dia baik banget memberi tahu ini itu, dia sudah tinggal di Krabi selama 2 hari dan akan terbang ke Bangkok esoknya. Dari dialah saya tahu kemana harus memesan tour Phi-Phi Island, harga barang di Family Mart lebih murah daripada Seven Eleven, nasi durian dan ayam yang enak di sepanjang jalan, susu yang enak di Family Mart, dan lain sebagainya. Karena hostel tidak menyediakan air minum (hanya air panas) maka mau nggak mau saya pergi membeli air. Family Mart tidak jauh lokasinya dari hostel, hanya tinggal jalan kaki saja.

Kesan saya pertama kali belanja di Family Mart semua terlihat murah, kenapa? Karena mata uang Baht memakai satuan bukan ribuan seperti kita. Contohnya harga sebotol air ukuran 1,5L sebesar 7THB. Terlihat murah kan, tidak sampai 10, dan kalaupun di kurskan hanya sekitar 3rb perak. Kalaplah saya, beli roti dan susu yang dikompor-kompori oleh Chen. Akibatnya belanja pertama di sana saya sudah habis 29rb sendiri. Loh loh kok boros….Hahahahaha.

Saya memesan tour ke Phi-Phi Island lewat Rungtawan Tour. Saya diberi harga 850THB saudara-saudara. Pikir saya kok murah yak karena biasanya harga kisaran 900-1200THB. Namun si penjaga bilang bahwa tour ini tidak termasuk tiket masuk ke Bamboo Park di Bamboo Island. Ah itu tidak masalah buat saya. Karena tujuan tour saya memang ingin melihat pantai.

Sore itu saya habiskan waktu berjalan-jalan menikmati sunset di Pantai Ao nang bersama Chen. Berikut foto-foto yang sempat saya ambil di Pantai Ao Nang menjelang dan saat sunset.

DSC_0183
Chen

DSC_0150 DSC_0154 DSC_0155 DSC_0169 DSC_0216 DSC_0229 DSC_0270

Esok paginya saya sudah bersiap di depan hostel menunggu jemputan tour. Saya dijemput pertama sendiri sebelum akhirnya di drop di satu point bersama dengan peserta tour lain. Sambil menunggu jemputan yang lain samar-samar saya dengan keluarga yang bercakap-cakap dengan Bahasa Indonesia. Saya terus konsentrasi dan berusaha mendengarkan untuk meyakinkan apakah benar mereka orang Indonesia. Akhirnya saya beranikan diri menyapa mereka terlebih dahulu dan ternyata benar saja mereka dari Jakarta. Sebagai solo traveler terkadang saya merasa bebas, namun terkadang merasa kesepian. Kalau sudah merasa kesepian saya beraksi dengan jurus sapa, menyapa terlebih dahulu sehingga akhirnya bisa mendapatkan teman baru. Saya akan ceritakan lebih lanjut tentang jurus sapa saya selanjutnya yang ampuh banget 😀 😀 😀

Tour dengan menggunakan speed boat ini mempunyai destinasi sebagai berikut :

  1. Bamboo Island
  2. Viking Cave
  3. Maya Bay
  4. Phi-Phi Island

Tour sudah termasuk dengan :

  1. Jemput dan antar ke hostel
  2. Air Minum
  3. Makan siang
  4. Buah

Peserta tour dengan destinasi yang sama dibawa ke Noppharat Thara Beach, karena start tour memang dari sana. Rencananya sore hari saya akan ke pantai ini untuk menikmati sunset.

Bamboo Island

Kunjungan pertama di Bamboo Island selama 30 menit. Saya tidak berenang hanya menikmati airnya saja yang jernih, sekilas mengingatkan saya tentang Gili Island di Lombok. Jadilah saat itu saya traveling bersama keluarga dari Jakarta, gerombol jadi satu. Hahaha, lumayan kan ada yang bantu fotoin, dan mereka juga pasti seneng ada yang fotoin sekeluarga  juga :D. Saya iseng-iseng bertanya kepada seseorang yang ikut tour bersamaan dengan saya. Ternyata dia membayar 1000THB, padahal kami berada di boat yang sama. Stelah cukup lama mengobrol saya sempatkan berkeliling sebentar di sekitar pulau untuk mengambil foto dan duduk menikmati pantai dengan pasirnya yang putih.

DSC_0318
Long tail boat

DSC_0298 DSC_0299 DSC_0303 DSC_0304 DSC_0308

Waktu kunjungan ke Bamboo Island sudah habis, selanjutnya adalah laut yang dikelilingi dengan bukit kapur. Air jernih sekali dan menurut saya ini bagus. Disini diperbolehkan berenang namun tidak bisa melihat apapun karena air sedang pasang. Karena sudah kebelet pengen berenang saya siap terjun ke bawah. Eh, kebetulan guidenya nawarin saya buat motret akhirnya  saya terjun dari kapal tanpa pelampung. Rasanya lebih ringan tanpa life vest. Tapi kaki pegel harus gerak terus. Akhirnya saya naik ke kapal dan memutuskan untuk terjun kedua kalinya dengan memakai life vest:D. Saya habiskan waktu sekitar 15 menit terapung-apung di Laut Andaman ini.

DSC_0342 DSC_0344 DSC_0362

Viking Cave

Selanjutnya destinasi dari tour ini adalah Viking Cave. Sayangnya boat kami tidak berhenti di gua ini, hanya lewat saja. Kata guidenya ada banyak lukisan-lukisan di dinding gua tentang bajak laut. Maka dari itu diberi nama Viking Cave. Banyak terdapat ikan di sekitaran Viking Cave ini dan airnya memang jernih sekali, pengen banget terjun dan renang :D.

DSC_0368 DSC_0371 DSC_0372 DSC_0379

Saya pindah duduk di boat bagian depan, karena ingin lihat pemandangan. Saya berbagi tempat duduk dengan 3 bule dari Argentina. Jurus sapa dipake lagi dong, eh ternyata mereka mau berkunjung ke Bali. Langsung deh promo Bali kayak bagaimana ahahaha. Tak lupa saya tinggalkan alamat email saya apabila mereka butuh bantuan dan ingin bertanya tentang Bali.

Ternyata duduk di depan itu ga senyaman duduk di belakang. Terasa banget ombaknya jadi seperti naik motor yang nabrak batu. Sensasi bumpy wavenya kerasa banget. Kalau nggak berpegangan erat mungkin saya sudah terlempar keluar dari boat. Hahaha, tapi asli pemandangannya indah banget, laut lepas dengan bukit kapur di pinggirnya. Mau ambil foto juga nggak mungkin karena dalam keadaan goyang banget dan air laut yang muncrat-muncrat membasahi tubuh.

Untungnya kemarin Chen memberi tahu saya bahwa saya perlu membeli dry bag. Sungguh pengeluaran yang tak terduga buat saya, nggak rela harus beli dry bag hanya untuk tour yang tidak sampai satu hari. Kamera dan HP Chen jatuh ke air saat tour, oleh sebab itu saya akhirnya membeli dry bag yang menurut saya mahal. Tapi setidaknya kamera dan tab saya aman dari serangan air.

Maya Bay

Selanjutnya kami berhenti di Maya Bay. Wuih banyak banget orangnya disana, jadi nggak bebas buat foto-foto. Dan lagi pantainya ini kecil banget, nggak panjang seperti Kuta ahahaha. Saya berusaha menemukan spot kosong buat foto-foto narsis, akhirnya dapet juga setelah perjuangan ngeset waktu dan ngepasin sama background yang bagus. Karena tidak ada tripod sebagai penyangga kamera, kayu dan kain pantai pun jadi :D. Airnya pun jernih pokoknya bagus. Lebih bagus kalau kesana nggak rame dan nggak pakai tour, jadi bisa menikmati tuh pantai sepuasnya selama yang kita mau.

DSC_0425 DSC_0456 DSC_0447

Phi-phi Island

Tujuan berikutnya adalah Phi-Phi Island. Saya sudah siap dengan itinerary saya yang ingin mengunjungi Phi-Phi View Point yang ada di puncak bukit. Namun guide saya bilang bahwa waktu singgah 1,5 jam yang diberikan tidak akan cukup sementara kami juga harus makan siang. Akhirnya saya urungkan niat saya ke Phi-Phi View Point.

Entah kenapa saya jadi rakus pas liat makan siang. Semuanya pengen diambil. Jangan khawatir karena makan siang sudah include dengan tour, jadi tidak perlu bayar lagi. Tapi dari semua makanan yang saya ambil hanya spaghetti yang paling enak. Saya duduk semeja dengan keluarga dari Jakarta dan kemudian jalan-jalan bersama di sepanjang Phi-Phi Island yang banyak menjual souvenir. Saya hanya melihat-lihat dan tidak membeli apapun mengingat saya akan berbelanja nantinya di Bangkok.

DSC_0465
Tempat bersantai di dekat pantai

DSC_0460 DSC_0461 DSC_0462 DSC_0466

Akhirnya setelah keadaan air laut agak surut kami dibawa ke spot snorkeling tidak jauh dari Phi-Phi Island. Sayangnya tidak banyak yang bisa kita lihat disana, tetep snorkeling di Gili Lombok lebih juara. Akhirnya saya berenang-renang saja dan menjauh dari terumbu karang yang terdapat banyak bulu babi. Saya takut tertusuk durinya. Eh nggak tahunya malah saya kejauhan snorkelingnya, mungkin karena terbawa ombak juga. Salah satu staff tournya sampai jemput saya dan gandeng saya mendekat ke boat. Hahahaha, memalukan :D:D.

Salah satu peserta tour ada yang kena bulu babi di telapak kakinya. Dari sana saya tahu bahwa duri bulu babi tidak bisa dicabut, namun bisa hilang dengan cara meneteskan apa saja yang berbau asam seperti air perasan nanas atau jeruk nipis. Dengan ditetesi air yang bersifat asam, bulu babi menjadi lunak dan keluar dari kaki dengan sendirinya.

Sore pukul 4 tepat tour sudah selesai. Saya terserang flu tiba-tiba. Ubek-ubek persediaan obat eh ternyata tidak ada ada vitamin C. Saya buru-buru mandi dan berjalan lagi keluar untuk membeli beberapa keperluan. Saya akhirnya memutuskan pergi ke Phuket dengan van daripada menggunakan bis seperti yang sudah saya rencanakan di itinerary. Karena akan lebih mudah buat saya untuk cepat sampai di hostel yang sedang dalam keadaan sakit.

Sore itu saya pergi ke pantai Noppharat Thara dengan berjalan kaki. Mau sewa sepeda di hostel ternyata semuanya rusak. Coba nawar tuk-tuk mahal banget. Akhirnya saya jalan kaki sejauh 3,6 km, PP jadi 7,2km! Tapi tidak apa-apa sambil survey tour yang menawarkan tour di sepanjang jalan menuju pantai. Harga van ke Phuket beragam bulai dari 30-450 THB. Setelah membayar seharga 400THB dan jalan sedikit eh nemu seharga 350THB, apa boleh buat sudah terlanjur dibayar.

Sepanjang perjalanan menuju pantai ini pula terdapat banyak penjual makanan, saya hanya membeli manggo sticky rice seharga 30THB. Aslinya sih pengen beli semua tapi saya ingat bahwa saya travel on budget :’(. Saya hanya puas memandangi dan ambil beberapa foto saja. Oh ya, yang beragama Muslim nggak usah khawatir karena ada  Masjid disini :D.

DSC_0476
Masjid di Ao Nang

DSC_0475 DSC_0485 DSC_0488 DSC_0289 DSC_0286

DSC_0481
Sunset di Noppharat Thara

DSC_0494 DSC_0523

Akhirnya berburu sunset di hari kedua pun berakhir, saya kembali ke hostel yang jauhnya 3,6km dengan berjalan kaki sambil tak lupa memotret Ao Nang di malam hari. Saya sempatkan mampir ke apotek membeli vitamin C dan obat flu. Berharap flu ini tidak mengganggu perjalanan saya selanjutnya.

DSC_0566 DSC_0557 DSC_0484 DSC_0477 DSC_0281 DSC_0280

DSC_0477
Airport bus

See Phuket soon!

Iklan

4 tanggapan untuk “Mengejar Sunset di Krabi

    1. Hahahah ayooo wujudkan perjalananmu segere…nunggu temen ato nunggu berani nggak akan jalan nanti 😀
      Seru? Jangan ditanya, so pasti…!! banyak yang di dapet…Kalo ke Delhi belum masuk daftarku Devi,,,mau menjelajah Asia Timur dulu lalu ke Eropa amiinn 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s